Lewati ke konten utama
← Kembali ke Berita
Berita 19 Mei 2026

39 Hari Sebelum Hyrox Jakarta: Kenapa VO2max Lebih Menentukan Finish Time Daripada Kekuatan

Studi fisiologi akut Hyrox menunjukkan kapasitas aerobik adalah prediktor performa terbaik — implikasi langsung untuk lima minggu terakhir persiapan.

39 Hari Sebelum Hyrox Jakarta: Kenapa VO2max Lebih Menentukan Finish Time Daripada Kekuatan

Hyrox Jakarta di NICE PIK2 Tangerang berlangsung 27-28 Juni 2026, 39 hari dari sekarang. Banyak atlet yang baru pertama kali tampil masih bertanya: lebih penting fokus angkat berat atau lari? Studi akut fisiologi Hyrox dari peneliti Jerman memberi jawaban yang spesifik.

Apa yang Diukur Studi

Peneliti mengukur respons cardiovascular dan metabolik selama race Hyrox simulasi pada atlet trained. Hasilnya jelas: total waktu finish berkorelasi paling kuat dengan VO2max, bukan dengan 1RM maupun jumlah pull-up atau push-up yang bisa dilakukan. Kekuatan absolut tetap penting untuk lulus minimum requirements per station (terutama wall ball, burpee broad jump, dan sled push), tetapi setelah threshold tersebut tercapai, kapasitas aerobik mengambil alih sebagai pembatas utama.

Tinjauan lanjutan dari scoping review HIFT hybrid competitions mengkonfirmasi pola yang sama lintas format: cardio engine yang baik adalah denominator umum untuk performa tinggi di kompetisi functional fitness.

Kenapa Station Lebih Menguras Daripada Larinya

Insight kedua dari studi: setiap station menghasilkan akumulasi laktat yang membuat 1 km berikutnya terasa jauh lebih berat dibanding 1 km segar di awal. Atlet yang VO2max-nya tinggi clear lebih cepat dari debt oksigen station-to-run, sehingga pace lari di km 3, 5, dan 7 tetap stabil.

Praktisnya: kalau di latihan kamu bisa lari 8 km dalam 40 menit dengan napas terkontrol tetapi lari 1 km setelah set sled push terasa seperti race 5K, masalahnya bukan kecepatan dasar — itu adalah aerobic recovery kapasitas yang masih terbatas.

Implikasi untuk 5 Minggu Terakhir

Empat sampai lima minggu jelang race adalah window taper untuk volume tetapi tetap window aktif untuk intensitas spesifik. Daripada menambah set deadlift atau bench press, prioritaskan sesi brick work: 800 meter lari pace target, langsung disambung station kompleks (wall ball + farmer carry), repeat 5-6 kali. Tujuannya bukan menambah kekuatan absolut, tetapi mengkondisikan tubuh untuk recover cepat dari station ke run.

Long Z2 run 60-75 menit sekali seminggu mempertahankan base aerobik. Kombinasi keduanya menjaga sistem energi yang akan dipakai di race day, tanpa overreaching yang merusak taper.

Takeaway: Lima minggu terakhir bukan untuk mengejar PR deadlift — fokus ke brick work dan long Z2 run akan memberi return-on-investment yang lebih besar di finish time Hyrox Jakarta.