Lewati ke konten utama
← Kembali ke Berita
Berita 18 Mei 2026

Zone 2 di Cuaca Jakarta: Mengapa Heart Rate Method Bisa Menyesatkan Menjelang JAKIM 2026

Pelari yang bersiap untuk BTN Jakarta International Marathon sering mengandalkan jam tangan. Cuaca tropis membuat patokan denyut jantung kurang akurat.

Zone 2 di Cuaca Jakarta: Mengapa Heart Rate Method Bisa Menyesatkan Menjelang JAKIM 2026

Empat minggu menjelang BTN Jakarta International Marathon 2026 pada 13 Juni, banyak pelari urban menyandarkan kontrol intensitas latihan pada jam tangan dengan estimasi zona heart rate. Pendekatan ini punya kelemahan signifikan di iklim tropis Jakarta yang membuat denyut jantung melonjak bukan karena beban metabolik, melainkan karena beban termoregulasi.

Mengapa Heart Rate Bias di Cuaca Panas

Pada suhu 30 sampai 33 derajat dengan kelembapan di atas 70 persen, denyut jantung pelari bisa naik 10 sampai 20 bpm pada pace yang sama. Kenaikan ini sebagian besar mencerminkan kerja sirkulasi untuk mendinginkan tubuh, bukan peningkatan oksidasi karbohidrat atau lemak. Akibatnya, target zona 2 berbasis persentase HR maksimal bisa menjebak pelari untuk berlari terlalu lambat dan kehilangan stimulus aerobik yang seharusnya didapat.

Riset endurance training mutakhir, termasuk tinjauan tentang metode penentuan zona latihan, semakin menekankan pengukuran berbasis lactate atau ventilatory threshold sebagai patokan yang lebih stabil dibanding HR persentase saja.

Pendekatan Alternatif untuk JAKIM

Untuk pelari yang tidak punya akses ke tes laktat formal, tiga metode lapangan lebih reliabel di cuaca Jakarta. Pertama, talk test: pada zona 2 sejati, pelari bisa menyelesaikan kalimat penuh tanpa terengah. Kedua, pace acuan dari long run terakhir yang terasa nyaman selama 90 menit. Ketiga, RPE (Rating of Perceived Exertion) 4 sampai 5 dari 10, dengan napas hidung sebagai indikator tambahan.

Pelari yang sudah berbasis data Garmin atau Polar bisa mengkombinasikan: gunakan HR sebagai catatan jangka panjang, tapi prioritaskan pace dan RPE untuk pengambilan keputusan harian.

Aplikasi Praktis Empat Minggu ke JAKIM

Empat minggu menjelang race adalah fase taper, di mana volume turun namun intensitas spesifik tetap dijaga. Long run zona 2 di akhir pekan masih relevan: lakukan pada pace yang dapat dipertahankan dengan napas terkontrol, terlepas dari angka HR. Jika berlari pagi sebelum jam 6, pertahankan napas hidung sebagai patokan utama; jika terpaksa berlari setelah pukul 7 pagi, terima bahwa HR akan elevated dan kurangi pace 15 sampai 30 detik per km untuk menjaga upaya tetap pada target.

Takeaway: Menjelang JAKIM 2026, andalkan kombinasi pace, talk test, dan RPE untuk kontrol intensitas, bukan satu angka HR persentase yang mudah bias oleh panas Jakarta.