Lewati ke konten utama
← Kembali ke Berita
Berita 29 Mei 2026

Zone 2 Mungkin Tidak Seefektif yang Kamu Pikir — Kalau Kamu Bukan Atlet Elite

Review kritis menunjukkan sebagian besar bukti Zone 2 berasal dari atlet elite, bukan pelari rekreasional urban.

Zone 2 Mungkin Tidak Seefektif yang Kamu Pikir — Kalau Kamu Bukan Atlet Elite

Zone 2 — latihan kardio pada intensitas rendah di mana percakapan masih mungkin — telah menjadi resep paling populer di kalangan pelari Indonesia menjelang race musim Juni–Agustus. Tapi review kritis terhadap basis bukti Zone 2 menunjukkan kesenjangan penting: sebagian besar penelitian yang mendukung pendekatan ini dilakukan pada atlet elite atau sub-elit dengan volume latihan minimal 10 jam per minggu — bukan pelari rekreasional yang berlatih 3–5 jam (Sport Science Collective: Zone 2 evidence base).

Yang sering dilewatkan dari penelitian asli

Studi yang sering dikutip — termasuk penelitian klasik pada atlet endurance Skandinavia dan pelari kenya — menggunakan partisipan yang berlatih 12–20 jam per minggu. Pada volume ini, distribusi 80% Zone 2 dan 20% intensitas tinggi memang menghasilkan adaptasi mitokondria dan oksidasi lemak yang optimal.

Tapi pelari rekreasional yang berlatih 3–4 sesi 45 menit per minggu adalah populasi berbeda. Penelitian tahun 2024 yang membandingkan zona aerobik pada pelari amatir menemukan bahwa pelari dengan total volume kurang dari 5 jam per minggu mendapat adaptasi VO2max lebih besar dari sesi intensitas moderat-tinggi dibanding Zone 2 yang ketat.

Konteks pelari urban Indonesia

Untuk pelari Jakarta atau Surabaya yang punya 4–5 jam waktu latihan per minggu, mengalokasikan 80% pada Zone 2 berarti hanya 30–40 menit per minggu pada intensitas yang merangsang adaptasi VO2max. Ini di bawah threshold minimal yang ditemukan efektif dalam beberapa studi pelari rekreasional.

Bukan berarti Zone 2 tidak berguna. Untuk durabilitas — kemampuan mempertahankan pace di akhir long run atau marathon — Zone 2 tetap kontributor utama. Tapi mengkultuskan distribusi 80-20 tanpa konteks volume total bisa kontraproduktif.

Apa artinya untuk persiapan race musim panas

Untuk pelari yang menyiapkan Smartfren Run, Pocari Sweat Run Lombok, atau Surabaya Marathon: alih-alih meniru distribusi atlet elite, pertimbangkan distribusi yang sesuai volume — misalnya 60–70% mudah, 20–30% threshold/tempo, 10% interval pendek. Pendekatan ini sering disebut pyramidal training dan menunjukkan hasil setara atau lebih baik pada pelari amatir dalam beberapa review terbaru.